
Ketika anak terlihat baik-baik saja, apakah kita benar-benar tahu apa yang sedang ia rasakan?
Berita tentang kesehatan mental remaja kembali menjadi perhatian. Pada 7 Oktober 2026, BKKBN menyoroti data I-NAMHS 2022 yang menunjukkan bahwa 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, sementara sekitar 5,5% memenuhi kriteria gangguan mental atau sekitar 1 dari 20 remaja.
Namun ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami orang tua:
34,9% bukan berarti 34,9% remaja mengalami gangguan mental.
Ada perbedaan antara masalah kesehatan mental dan gangguan mental. Memahami perbedaan ini penting agar kita tidak panik, tetapi juga tidak mengabaikan kondisi anak.
Ringkasan
- I-NAMHS 2022 meneliti kesehatan mental remaja Indonesia usia 10–17 tahun.
- Sekitar 34,9% remaja menunjukkan masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
- Sekitar 5,5% memenuhi kriteria suatu gangguan mental dalam 12 bulan terakhir.
- Gangguan kecemasan menjadi gangguan mental yang paling banyak ditemukan dalam survei tersebut, sekitar 3,7%.
- Angka tersebut seharusnya menjadi pengingat agar orang tua lebih peka terhadap perubahan emosi, perilaku, hubungan sosial, dan fungsi sehari-hari anak.
Apa yang Terjadi?
Dalam rapat koordinasi KKSK pada 6 Oktober 2026, isu kesehatan mental remaja menjadi salah satu perhatian Kemendukbangga/BKKBN. Sehari kemudian, pernyataan tersebut diberitakan oleh detikNews.
Wihaji, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, menyebut data I-NAMHS 2022 bahwa 34,9% remaja mengalami masalah mental dan sekitar 1 dari 20 mengalami gangguan mental.
Data tersebut bukan hasil survei baru tahun 2026. Angka tersebut berasal dari I-NAMHS 2022 dan kembali disoroti dalam konteks kebijakan kesehatan dan pembangunan keluarga pada 2026.
Mengapa Ini Relevan dengan Psikologi?
Karena angka statistik sering kali membuat kita lupa bahwa di balik setiap angka ada seorang anak.
Remaja sedang berada pada masa perubahan besar: fisik, emosi, cara berpikir, hubungan dengan teman sebaya, serta hubungan dengan keluarga.
Tekanan akademik, konflik keluarga, persoalan pertemanan, perubahan relasi sosial, tuntutan lingkungan, dan pengalaman sehari-hari dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Tetapi kita juga perlu berhati-hati.
Sedih bukan otomatis depresi.
Marah bukan otomatis gangguan perilaku.
Menarik diri sesekali bukan otomatis gangguan mental.
Sebaliknya, perubahan yang terus berlangsung dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari juga tidak sebaiknya dianggap sekadar “namanya juga remaja”.
Di sinilah orang tua membutuhkan kemampuan untuk mengamati sebelum menyimpulkan.
34,9% Itu Artinya Apa?
Dalam I-NAMHS, sekitar satu dari tiga remaja atau 34,9% menunjukkan gejala masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir tetapi tidak memenuhi kriteria diagnosis gangguan mental. Sementara 5,5% memenuhi kriteria gangguan mental berdasarkan DSM-5.
Dengan kata sederhana:
Masalah kesehatan mental lebih luas daripada gangguan mental.
Seseorang dapat sedang mengalami masalah emosional atau psikologis dan membutuhkan perhatian, dukungan, atau bantuan tanpa berarti ia otomatis memiliki diagnosis gangguan mental.
Karena itu, penggunaan istilah harus tepat.
Jangan sampai angka 34,9% justru membuat orang tua berpikir bahwa satu dari tiga anak Indonesia “mengalami gangguan jiwa”.
Itu bukan kesimpulan yang didukung oleh data I-NAMHS.
Apa yang Perlu Dipahami Orang Tua?
Yang paling penting bukan hanya bertanya:
“Apakah anak saya punya gangguan mental?”
Tetapi juga:
“Apa yang sedang terjadi pada anak saya?”
Perhatikan perubahan dibandingkan kondisi anak biasanya.
Misalnya:
- perubahan suasana hati yang menetap;
- kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai;
- perubahan pola tidur atau makan;
- penurunan fungsi belajar;
- menarik diri dari lingkungan;
- konflik yang semakin sering;
- kesulitan mengendalikan emosi;
- keluhan fisik yang berulang tanpa penjelasan yang jelas;
- perubahan perilaku yang berlangsung dan semakin mengganggu kehidupan sehari-hari.
Satu tanda saja tidak cukup untuk menentukan diagnosis.
Yang perlu diperhatikan adalah pola, durasi, intensitas, konteks, dan dampaknya terhadap fungsi anak.
Apa Kata Penelitian?
Hasil I-NAMHS menunjukkan bahwa 34,9% remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, sementara 5,5% memenuhi kriteria gangguan mental. Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang paling umum ditemukan, sekitar 3,7%, diikuti gangguan depresi mayor 1,0%, gangguan perilaku 0,9%, serta PTSD dan ADHD masing-masing 0,5%.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental remaja perlu dipahami sebagai isu yang nyata, bukan sekadar fase yang selalu harus ditunggu sampai “hilang sendiri”.
Kemenkes juga menggunakan temuan I-NAMHS sebagai dasar untuk mendorong perhatian lebih besar terhadap kesehatan jiwa remaja.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Tidak semua masalah harus langsung diselesaikan dengan nasihat.
Kadang anak lebih membutuhkan orang tua yang mau hadir.
1. Mulai dengan mengamati
Perhatikan perubahan anak tanpa langsung menghakimi.
Alih-alih:
“Kenapa kamu sekarang jadi malas?”
coba:
“Ibu melihat akhir-akhir ini kamu lebih sering diam. Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?”
2. Dengarkan sebelum memberi solusi
Remaja bisa berhenti bercerita ketika setiap cerita langsung berubah menjadi ceramah.
Dengarkan dulu.
Tanyakan.
Validasi perasaannya.
Baru kemudian bantu mencari jalan keluar.
3. Jangan membandingkan
Kalimat seperti:
“Temanmu saja bisa.”
atau
“Dulu Ibu umur kamu tidak begitu.”
sering kali tidak membuat anak lebih kuat.
Sebaliknya, anak dapat merasa bahwa pengalaman dirinya tidak dipahami.
4. Bedakan perilaku dengan identitas anak
Anak yang sedang marah bukan berarti “anak pemarah”.
Anak yang sedang gagal bukan berarti “anak gagal”.
Anak yang sedang kesulitan bukan berarti “anak bermasalah”.
Perilaku adalah informasi, bukan karakter.
5. Ajarkan bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan
Jika masalah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, sekolah, hubungan sosial, atau hubungan keluarga, orang tua dapat mempertimbangkan bantuan profesional.
Mencari bantuan lebih awal bukan berarti orang tua gagal mendidik anak.
Justru bisa menjadi bentuk kepedulian.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua
“Itu cuma fase remaja.”
Memang ada perubahan yang merupakan bagian normal dari perkembangan. Namun tidak semua perubahan sebaiknya diabaikan.
“Anak saya baik-baik saja karena masih sekolah.”
Fungsi akademik yang terlihat baik tidak otomatis berarti kondisi emosional anak juga baik.
“Jangan dipikirkan.”
Bagi orang dewasa, masalah anak mungkin terlihat kecil. Bagi anak, pengalaman tersebut bisa terasa sangat besar.
“Kamu kurang bersyukur.”
Kalimat ini biasanya tidak membantu anak memahami emosinya.
Langsung memberi label
Label seperti “drama”, “lemah”, “malas”, atau “cari perhatian” dapat membuat anak semakin enggan bercerita.
Kapan Perlu Berkonsultasi?
Tidak setiap perubahan perilaku berarti gangguan mental.
Namun konsultasi dengan psikolog dapat dipertimbangkan ketika perubahan yang dialami anak:
- Berlangsung cukup menetap;
- Semakin intens;
- Mengganggu sekolah atau aktivitas sehari-hari;
- Mengganggu hubungan dengan keluarga atau teman;
- Membuat anak kesulitan menjalankan fungsi sehari-hari;
- Membuat orang tua merasa tidak lagi mampu memahami dan mendampingi anak dengan baik.
Jika terdapat pembicaraan tentang keinginan menyakiti diri, mengakhiri hidup, atau kondisi yang membahayakan keselamatan anak, jangan menunggu masalah membesar. Cari bantuan profesional dan layanan darurat yang tersedia di wilayah Anda.
Kesimpulan
Angka 34,9% seharusnya bukan alasan untuk panik.
Tetapi juga bukan angka yang boleh kita abaikan.
Data I-NAMHS mengingatkan bahwa banyak remaja menghadapi masalah kesehatan mental, sementara sebagian lainnya memenuhi kriteria gangguan mental.
Karena itu, tugas orang tua bukan menjadi “detektor diagnosis”.
Tugas pertama orang tua adalah menjadi orang yang cukup aman untuk didatangi anak ketika hidup sedang terasa berat.
Dengarkan sebelum menilai.
Pahami sebelum menasihati.
Amati sebelum menyimpulkan.
Dan ketika memang dibutuhkan, jangan ragu mencari bantuan.
Ditulis oleh
Tim Talenta Mulia
Diperbarui
Psychology • Healthcare • Leadership
Fakta Singkat Talenta Mulia
Ringkasan data resmi tentang cakupan pengalaman dan layanan tim Talenta Mulia.
- 8+
- Ahli Multidisiplin
- 25+
- Tahun Pengalaman Gabungan
- 50+
- Organisasi Dilayani
- 2rb+
- Individu Terberdayakan
Pendekatan
Bagaimana Pendekatan Talenta Mulia Bekerja?
- 01
Memahami kebutuhan
Memahami konteks individu, keluarga, organisasi, atau institusi.
- 02
Assessment atau eksplorasi
Menggunakan metode yang relevan dengan tujuan layanan.
- 03
Merancang intervensi
Menyusun pendekatan sesuai kebutuhan dan konteks.
- 04
Implementasi
Dilakukan oleh profesional yang relevan dengan layanan.
- 05
Evaluasi dan tindak lanjut
Meninjau hasil dan menentukan langkah berikutnya.
Sesuai kebutuhan Anda
Layanan Talenta Mulia
Parenting & Anak
Pendampingan untuk memahami kebutuhan perkembangan anak dan dinamika pengasuhan.
Lihat LayananKonsultasi Psikolog Online
Akses konsultasi psikolog secara online dengan proses yang terstruktur dan rahasia.
Lihat LayananKonsultasi Kesehatan
Pendekatan medis dan psikologis untuk kebutuhan kesehatan dan institusi.
Lihat LayananStandar layanan
Mengapa Talenta Mulia?
Tim multidisiplin
Perspektif psikologi, kesehatan, coaching, dan pengembangan organisasi sesuai kebutuhan.
Berbasis bukti ilmiah
Pendekatan mempertimbangkan bukti dan metode profesional yang relevan.
Praktik beretika & rahasia
Layanan mengikuti kompetensi, kerahasiaan, dan prinsip etika profesi yang relevan.
Pendekatan terintegrasi
Perspektif lintas disiplin dipadukan sesuai konteks kebutuhan.
Solusi sesuai kebutuhan
Program disesuaikan dengan konteks individu, keluarga, atau organisasi.
Dampak yang dapat dievaluasi
Proses dilengkapi evaluasi dan tindak lanjut yang relevan.
Tim multidisiplin
Siapa Profesional di Balik Talenta Mulia?

Dr. Hj. Andiani
Psikologi & Pengembangan Organisasi
Psikologi, organisasi, kepemimpinan
Lihat Halaman Tim

Maulidah Muflichah, M.Psi., Psikolog., CHt.
Psikolog
Konsultasi psikologi, kesehatan mental, pengembangan diri
Lihat Halaman Tim
Eka Rachmawaty, M.M., PCC
Executive Coach
Executive coaching, leadership, pengembangan organisasi
Lihat Halaman Tim
Mamluatul Khoiriyah, M.Psi., Psikolog
Psikolog
Psikologi individu, keluarga, dan organisasi
Lihat Halaman TimArtikel Terkait
- Psikologi IndividuMengapa Aktivitas Sederhana Terasa Sangat Berat Saat Depresi? Panduan & Solusi Pemulihan6 menit baca
- Psikologi IndividuKetika Hobi yang Dulu Disukai Tidak Lagi Memberikan Kesenangan: Penyebab dan Solusi Psikologis6 menit baca
- Psikologi IndividuTekanan Pekerjaan Membuat Tubuh dan Pikiran Sulit Rileks? Ini Solusi Pemulihannya8 menit baca
Membutuhkan Pendampingan?
Bicarakan kebutuhan Anda bersama tim Talenta Mulia melalui proses yang profesional dan sesuai konteks.
Jadwalkan Konsultasi