Psikologi Individu

Ketika Candaan Dosen Membuat Mahasiswa Tak Nyaman, Apa Dampaknya Secara Psikologis?

Sebuah ruang kelas seharusnya menjadi tempat mahasiswa merasa aman untuk belajar, bertanya, menyampaikan pendapat, bahkan berbeda pandangan. Namun, ketika komunikasi pengajar menyentuh tubuh, gender, atau seksual seseorang, sebuah candaan dapat menimbulkan persoalan yang jauh lebih serius. Hal tersebut menjadi perhatian setelah muncul dugaan ucapan bernuansa seksual yang disampaikan seorang dosen UPN Veteran Jawa Timur berinisial […]

Ditulis oleh Tim Talenta Mulia 6 menit baca Diperbarui Dipublikasikan
Ketika Candaan Dosen Membuat Mahasiswa Tak Nyaman, Apa Dampaknya Secara Psikologis?

Sebuah ruang kelas seharusnya menjadi tempat mahasiswa merasa aman untuk belajar, bertanya, menyampaikan pendapat, bahkan berbeda pandangan. Namun, ketika komunikasi pengajar menyentuh tubuh, gender, atau seksual seseorang, sebuah candaan dapat menimbulkan persoalan yang jauh lebih serius.

Hal tersebut menjadi perhatian setelah muncul dugaan ucapan bernuansa seksual yang disampaikan seorang dosen UPN Veteran Jawa Timur berinisial HP, pengajar mata kuliah umum Bela Negara.

Kasus ini mencuat setelah keluhan mahasiswa beredar di media sosial. Pihak kampus kemudian mengambil langkah dengan mengganti dosen untuk mata kuliah tersebut dan melakukan pemeriksaan melalui mekanisme internal kampus. Hingga awal Oktober 2026, proses pemeriksaan masih berjalan. detikJatim

Penting ditegaskan: perkara ini masih dalam proses pemeriksaan. Karena itu, artikel ini menggunakan istilah dugaan dan terduga, bukan menyimpulkan bahwa pelanggaran telah terbukti.


1. Pembuka: Ketika Candaan Tidak Lagi Terasa Lucu

Kasus ini menarik perhatian bukan semata-mata karena ucapan yang diduga disampaikan di ruang kelas.

Ada persoalan yang lebih besar di baliknya: bagaimana sebuah candaan dapat diterima oleh orang yang berada dalam posisi berbeda secara psikologis dan struktural.

Menurut keterangan mahasiswa yang diberitakan detikJatim, pembahasan materi “4 Sehat 5 Sempurna” dalam perkuliahan kemudian diarahkan kepada topik susu. Dalam kesaksian mahasiswa, dosen tersebut diduga mengeluarkan sejumlah ucapan yang dianggap bernuansa seksual.

Seorang mahasiswi disebut menyampaikan keberatan karena merasa tidak nyaman dengan ucapan tersebut.

Setelah kasus menjadi perhatian publik, pihak UPN Veteran Jawa Timur menyatakan telah melakukan penggantian dosen untuk mata kuliah terkait dan melakukan pemeriksaan terhadap dosen yang bersangkutan. detikJatim

Di sinilah persoalan psikologis menjadi penting.

Sebuah ucapan tidak hanya dinilai dari niat orang yang mengatakannya, tetapi juga dari konteks, relasi antara kedua pihak, dan dampaknya terhadap orang yang menerimanya.


2. Tabel / Data Komparatif: Candaan Biasa atau Komunikasi yang Berisiko?

Tidak semua humor di ruang kelas merupakan masalah. Dosen tentu boleh menggunakan humor agar suasana belajar tidak kaku.

Namun, terdapat perbedaan antara humor yang membangun suasana dan humor yang berpotensi membuat seseorang merasa direndahkan atau menjadi objek seksual.

Situasi komunikasiKemungkinan dampakSikap yang lebih aman
Humor berkaitan dengan materi tanpa menyerang individuSuasana kelas lebih santaiTetap menjaga konteks
Candaan mengenai tubuh seseorangDapat menimbulkan malu atau tidak nyamanSebaiknya dihindari
Candaan bernuansa seksualBerpotensi membuat mahasiswa merasa menjadi objek seksualHindari dalam ruang akademik
Mahasiswa menyampaikan keberatanMenunjukkan ada batas yang dirasakan tergangguDengarkan tanpa meremehkan
Dosen menghentikan candaan setelah mendapat keberatanMembantu memulihkan rasa amanEvaluasi komunikasi
Keberatan diabaikan atau dibalas dengan tekananDapat meningkatkan rasa takut atau tidak berdayaGunakan mekanisme dialog/pengaduan
Dugaan pelanggaran dilaporkanMembuka ruang pemeriksaanPastikan proses berjalan adil dan berbasis bukti

Catatan: tabel di atas merupakan kerangka edukasi psikologis dan komunikasi, bukan kesimpulan hukum atau penetapan bahwa peristiwa tertentu telah terbukti.

Relasi kuasa juga perlu diperhatikan

Hubungan dosen dan mahasiswa tidak sepenuhnya setara.

Dosen memiliki kewenangan akademik, termasuk dalam proses pembelajaran dan penilaian. Kondisi tersebut dapat membuat mahasiswa lebih berhati-hati ketika ingin menyampaikan keberatan.

Karena itu, komunikasi yang mungkin dianggap sebagai “sekadar bercanda” oleh pengajar dapat diterima berbeda oleh mahasiswa.


3. Analisis & Perspektif Tambahan: Apa yang Terjadi Secara Psikologis?

Dalam perspektif psikologi, pengalaman komunikasi yang membuat seseorang merasa dipermalukan, menjadi objek seksual, atau tidak aman dapat menimbulkan respons emosional yang berbeda-beda.

Ada mahasiswa yang berani langsung menyampaikan keberatan.

Ada pula yang memilih diam.

Sebagian mungkin tertawa karena bingung harus merespons bagaimana.

Yang lain mungkin memilih menghindari situasi tersebut.

Artinya, diam atau tertawa tidak selalu berarti seseorang merasa nyaman.

Dampak psikologis dapat berbeda pada setiap orang

Pengalaman yang tidak menyenangkan di lingkungan pendidikan dapat memunculkan:

  • rasa malu;
  • cemas;
  • tidak nyaman berada di kelas;
  • takut menjadi sasaran candaan kembali;
  • menurunnya rasa percaya diri;
  • kesulitan berkonsentrasi;
  • keinginan menghindari situasi tertentu.

Namun, tidak tepat pula jika setiap orang yang mengalami ucapan tidak pantas langsung dianggap mengalami trauma atau gangguan psikologis.

Dampaknya harus dilihat secara individual.

Dalam konteks inilah perspektif psikolog menjadi penting.

Mengapa korban atau saksi bisa memilih diam?

Ada fenomena psikologis yang perlu dipahami.

Ketika seseorang berhadapan dengan figur yang dianggap memiliki otoritas, respons terhadap situasi tidak selalu berupa perlawanan langsung.

Seseorang bisa memilih diam karena:

“Takut dianggap berlebihan.”

“Takut nilai akademiknya terganggu.”

“Takut menjadi bahan pembicaraan.”

“Tidak tahu harus melapor ke siapa.”

Karena itu, menyediakan kanal pengaduan saja belum tentu cukup.

Mahasiswa juga perlu mengetahui bahwa kanal tersebut aman, jelas dan memiliki prosedur penanganan.


Perspektif Psikologi: Batas Humor di Lingkungan Pendidikan

Humor sebenarnya dapat memberikan manfaat dalam proses belajar.

Candaan yang tepat dapat membuat suasana kelas lebih cair, membantu mahasiswa merasa lebih dekat dengan pengajar dan mengurangi ketegangan.

Masalah muncul ketika humor menggunakan:

  • tubuh seseorang;
  • jenis kelamin;
  • seksualitas;
  • kondisi pribadi;
  • pengalaman sensitif;
  • atau posisi seseorang yang lebih lemah sebagai bahan lelucon.

Dalam situasi tersebut, pengajar perlu mempertimbangkan bukan hanya “Apakah saya menganggap ini lucu?”

Tetapi juga:

“Apakah orang lain memiliki kebebasan untuk mengatakan bahwa mereka tidak nyaman?”

Pertanyaan kedua jauh lebih penting ketika komunikasi terjadi dalam relasi yang memiliki perbedaan kekuasaan.


Mengapa Respons Setelah Keberatan Juga Penting?

Ada perbedaan besar antara seseorang melakukan kesalahan komunikasi kemudian menyadarinya dengan seseorang yang terus mempertahankan perilaku tersebut setelah mendapat keberatan.

Dalam pendidikan, kemampuan menerima umpan balik merupakan bagian dari profesionalitas.

Jika seorang mahasiswa mengatakan tidak nyaman, respons yang sehat dapat berupa:

mendengarkan → memahami → mengevaluasi → memperbaiki.

Bukan:

menertawakan → menyalahkan → mempermalukan → mengabaikan.

Tentu saja, penilaian mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus UPN Veteran Jawa Timur tetap harus menunggu hasil pemeriksaan resmi.


Kampus Harus Menjaga Dua Hal Sekaligus

Penanganan kasus semacam ini membutuhkan keseimbangan.

Melindungi mahasiswa

Mahasiswa yang merasa dirugikan perlu mendapatkan ruang aman untuk menyampaikan pengalaman dan memperoleh informasi mengenai mekanisme penanganan.

Menjaga asas keadilan

Pihak yang dilaporkan juga berhak mendapatkan proses pemeriksaan yang objektif dan kesempatan memberikan klarifikasi.

Keduanya tidak bertentangan.

Justru proses yang adil membutuhkan perlindungan terhadap pelapor sekaligus pemeriksaan yang objektif terhadap terlapor.

Pihak UPN Veteran Jawa Timur menyatakan Satgas PPKS melakukan proses pemeriksaan dan kampus berkomitmen menangani persoalan tersebut melalui mekanisme yang tersedia. detikJatim


4. Penutup & Rekomendasi Praktis untuk Pembaca

Kasus dugaan ucapan seksis di lingkungan UPN Veteran Jawa Timur pada akhirnya bukan hanya tentang apakah sebuah kalimat dianggap lucu atau tidak.

Ini adalah pengingat bahwa kata-kata memiliki konteks.

Di ruang kelas, seorang dosen memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjaga komunikasi tetap profesional karena terdapat hubungan akademik dengan mahasiswa.

Bagi dosen, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan:

  1. Hindari candaan mengenai tubuh dan seksualitas mahasiswa.
  2. Perhatikan respons mahasiswa terhadap humor yang digunakan.
  3. Berikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan keberatan.
  4. Jangan menjadikan posisi akademik sebagai alat untuk menekan mahasiswa.
  5. Evaluasi komunikasi jika sebuah candaan ternyata membuat orang lain tidak nyaman.

Bagi mahasiswa:

  1. Jangan merasa harus menanggung sendiri pengalaman yang membuat tidak nyaman.
  2. Simpan informasi atau bukti yang relevan jika memang diperlukan dalam proses pelaporan.
  3. Gunakan kanal resmi kampus apabila ingin mendapatkan penanganan.
  4. Jika membutuhkan dukungan emosional, pertimbangkan berbicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional.
  5. Hindari menyebarkan identitas atau informasi pribadi pihak-pihak yang terlibat tanpa dasar yang jelas.

Pelajaran untuk kita semua

Lingkungan pendidikan yang sehat bukan berarti lingkungan yang tidak pernah mengalami masalah.

Justru kualitas sebuah institusi dapat terlihat dari bagaimana mereka merespons ketika masalah muncul.

Apakah mahasiswa didengar?

Apakah pihak yang dilaporkan diperiksa secara adil?

Apakah bukti diperiksa?

Apakah ada perbaikan setelah kasus selesai?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang menjadi viral.

Karena pada akhirnya, kampus bukan hanya tempat mahasiswa mendapatkan gelar.

Kampus juga seharusnya menjadi tempat seseorang belajar menghormati orang lain, memahami batas, berkomunikasi secara sehat, dan berani menyampaikan keberatan tanpa kehilangan rasa aman.

Itulah cerita yang lebih besar di balik kasus ini: bagaimana sebuah persoalan dapat menjadi kesempatan untuk membangun ruang pendidikan yang lebih aman, profesional dan bermartabat.

Sumber: pemberitaan detikJatim dan informasi yang disampaikan pihak UPN Veteran Jawa Timur. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan kesalahan pihak tertentu sebelum proses pemeriksaan resmi selesai.

Ditulis oleh

Tim Talenta Mulia

Diperbarui

Psychology • Healthcare • Leadership

Fakta Singkat Talenta Mulia

Ringkasan data resmi tentang cakupan pengalaman dan layanan tim Talenta Mulia.

8+
Ahli Multidisiplin
25+
Tahun Pengalaman Gabungan
50+
Organisasi Dilayani
2rb+
Individu Terberdayakan

Pendekatan

Bagaimana Pendekatan Talenta Mulia Bekerja?

  1. 01

    Memahami kebutuhan

    Memahami konteks individu, keluarga, organisasi, atau institusi.

  2. 02

    Assessment atau eksplorasi

    Menggunakan metode yang relevan dengan tujuan layanan.

  3. 03

    Merancang intervensi

    Menyusun pendekatan sesuai kebutuhan dan konteks.

  4. 04

    Implementasi

    Dilakukan oleh profesional yang relevan dengan layanan.

  5. 05

    Evaluasi dan tindak lanjut

    Meninjau hasil dan menentukan langkah berikutnya.

Sesuai kebutuhan Anda

Layanan Talenta Mulia

Konsultasi Psikologi

Pendampingan psikologis untuk kebutuhan individu dan keluarga.

Lihat Layanan

Konsultasi Psikolog Online

Akses konsultasi psikolog secara online dengan proses yang terstruktur dan rahasia.

Lihat Layanan

Standar layanan

Mengapa Talenta Mulia?

Tim multidisiplin

Perspektif psikologi, kesehatan, coaching, dan pengembangan organisasi sesuai kebutuhan.

Berbasis bukti ilmiah

Pendekatan mempertimbangkan bukti dan metode profesional yang relevan.

Praktik beretika & rahasia

Layanan mengikuti kompetensi, kerahasiaan, dan prinsip etika profesi yang relevan.

Pendekatan terintegrasi

Perspektif lintas disiplin dipadukan sesuai konteks kebutuhan.

Solusi sesuai kebutuhan

Program disesuaikan dengan konteks individu, keluarga, atau organisasi.

Dampak yang dapat dievaluasi

Proses dilengkapi evaluasi dan tindak lanjut yang relevan.

Tim multidisiplin

Siapa Profesional di Balik Talenta Mulia?

Lihat Semua Profesional
Foto Dr. Hj. Andiani, Psikologi & Pengembangan Organisasi di Talenta Mulia

Dr. Hj. Andiani

Psikologi & Pengembangan Organisasi

Psikologi, organisasi, kepemimpinan

Lihat Halaman Tim
Foto Dr. Tri Novia, Psikologi & Kesehatan di Talenta Mulia

Dr. Tri Novia

Psikologi & Kesehatan

Psikologi, kesehatan, pengembangan manusia

Lihat Halaman Tim
Foto Maulidah Muflichah, M.Psi., Psikolog., CHt., Psikolog di Talenta Mulia

Maulidah Muflichah, M.Psi., Psikolog., CHt.

Psikolog

Konsultasi psikologi, kesehatan mental, pengembangan diri

Lihat Halaman Tim
Foto Eka Rachmawaty, M.M., PCC, Executive Coach di Talenta Mulia

Eka Rachmawaty, M.M., PCC

Executive Coach

Executive coaching, leadership, pengembangan organisasi

Lihat Halaman Tim
Foto Mamluatul Khoiriyah, M.Psi., Psikolog, Psikolog di Talenta Mulia

Mamluatul Khoiriyah, M.Psi., Psikolog

Psikolog

Psikologi individu, keluarga, dan organisasi

Lihat Halaman Tim